Meja13 adalah situs judi online game capsa susun judi bola Menangqq Agen bandar judi Adu Q

Cerita Sex: Dimanja Cowok Lain

 

Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbaru 2015 – Cerita Sex: Dimanja Cowok Lain Perkenalkan namaku Lya usia sekarang 17 tahun, diusiaku sekarang mungkin belum lumayan usia untuk menikah tapi di kampungku di usia segitu adalah telah layak untuk mengawali keluarga, ibuku sempat bilang kalau sebagai perempuan aku wajib cepat memiliki suami supaya nasibku terjamin, serta dapat memiliki keturunan supaya dapat meneruskan keturunan keluarga besar Bekti, yaitu yang punya tidak sedikit tanah di desa.
Cerita Bokep Indo | Aku sangat beruntung telah di persunting oleh orang kaya serta berwibawa, pikiranku kalau telah menikah pastilah tersanjung dimana aku membuka lembaran baru serta kelaurga baru, malam itu adalah malam pertamaku keperawananku aku serahkan terhadap suamiku, aku menantikan suamiku masuk dalam kamar.Berbagai saat kemudian, bunyi pintu kamar yang terkuak menggugah lamunanku. Malam ini, malam pertamaku, malam pernikahanku, kulihat sosok lelaki merengkuhku, merenggut kesucianku yang terbukti kusediakan untuknya, suamiku.

Namaku Lya, aaah bukan, Ny. Bekti. Kemanakah Lya? tiba-tiba aku wajib menyandang nama lain yang asing sama sekali bagiku. Kata Ibuku, nama itu tepat kusandang. Namaku Ny. Bekti, usiaku sekarang 21 tahun serta aku belum melahirkan seorang anakpun bagi suamiku.
Aku menonton bunda mertuaku tidak jarang menatap tajam ke arahku, mulutnya nyinyir, mengeluarkan kotoran kemana ia suka, mengeluarkan aroma basi dimanapun ia berada, di ruang tamu, di dapur, di kamar, di WC, bahkan di rumah
tetangga. Aroma busuk, hanya itulah yang keluar dari mulutnya serta aku masih diam, begitu juga suamiku. Suamiku bahkan mulai jarang pulang, bukan aku tidak tahu, kemana ia pergi. Ke rumit pelacuran, itulah tempat yang paling ia suka. Rumit pelacuran? Sejak kapan suamiku punya kegemaran berangkat ke rumit pelacuran? Setahun yang lalu? 2 tahun lalu? 3 tahun lalu? 4 tahun lalu? 5 tahun lalu? Alias sebelum itu? Anehnya, baik bunda mertuaku alias orang tuaku malah menyalahkan aku.
Bagaimana dengan Ayah mertuaku ? lupakanlah, ia telah mati jauh sebelum aku menikah dengan anaknya. Intinya, akulah yang tidak becus meladeni suami, jadi suamiku lari ke pelukan pelacur itu. Apa lagi, aku mandul, itulah yang dibilang bunda mertuaku, aroma basi yang ia sebarkan hampir di setiap aspek desa ini. Percayalah, aku tidak mandul, tapi aku sungguh tidak tahu mengapa aku tidak kunjung hamil juga.
Anehnya, suamiku sama sekali tidak memusingkan faktor ini, bukankah keturunan adalah faktor yang terpenting dalam nasib manusia? Malam itu suamiku baru saja pulang, entah dari mana, aku pura-pura tidur ketika ia membuka pintu kamar. Kau telah tidur? Suamiku menyapaku! Hatiku tersanjung sekali, hingga tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Aku membalikkan tubuhku, kutatap matanya dalam-dalam. Belum mas Jawabku. Mas dari mana? Sungguh pertanyaan yang paling konyol yang sempat kuucapkan.
Bukankah aku tahu ia baru kembali dari pelukan pelacur itu ? Kau tidak butuh tahu, yang penting kau wajib berpikir bagaimana dapat melahirkan seorang anak untukku! Jantungku berdesir, sakit sekali semacam ditusuk dengan ribuan paku, bukan, lebih dari ribuan paku. Aku membenamkan kepalaku dalam bantal, menangis tanpa suara, suara yang tidak sempat kumiliki meski sekedar untuk mengeluarkan isi otakku. Aku tidak sempat memiliki suara. Selanjutnya, hari-hariku semacam neraka saja, seluruh penduduk desa bergunjing mengenai aku, bahwa aku mandul, perempuan yang tidak sempurna.
Aku juga menonton pelacur itu rutin ceria, senyumnya membikin hatiku terus terluka, semacam disayat sembilu. Pelacur itulah, yang tidur dengan suamiku setiap malam, setiap malam sebelum suamiku menjamah tubuhku. Ia bayar pelacur itu tiap malamnya, sedangkan aku wajib melayaninya seumur nasibku tanpa bayaran, kecuali makian yang kudapat dari ibunya serta suamiku sendiri. Inikah nasib baru yang dulu aku bayangkan? Yang kuimpikan serta kuidamkan? TIDAK serta pasti saja aku takkan tinggal diam, sebab aku adalah Lya.
(baca juga: cerita sex cinta bersemi di butik)
Dasar pelacur! Teriakku pada perempuan yang sekarang berdiri di depanku. Hari itu aku tidak dapat menahan diri untuk menemui perempuan itu di rumit pelacuran. Pelacur? Yah pasti saja aku pelacur serta asal kau tahu Ny. Bekti, aku bangga dengan profesiku. Mukaku memerah sebab marah. Kuremas tanganku, ingin rasanya kutempeleng wajahnya. Kau telah merebut suamiku, kau terbukti perempuan terjangkauan! Merebut? Suamimu sendiri yang datang padaku serta melayaninya adalah tugasku.
Kau salah alamat Ny. Bekti, kau harusnya mendamparat suamimu karena ia tidak setia, bukan kepadaku! Plak! Aku menampar wajah perempuan itu, amarah tergambar jelas di wajahku. Namun aku sungguh tak menyangka ia membalas tamparanku, bahkan lebih keras dari tamparanku.Aku memang pelacur, tapi takkan kubiarkan satu orangpun melecehkan harga diriku Aku tertawa keras, berani sekali pelacur ini ngomong soal harga diri. Kau pikir kau lebih berharga dari aku, Nyonya? Katakan padaku apakah suamimu menghargaimu? Aku tediam, tiba-tiba saja aku tak punya lagi kata-kata.
Aku sudah kalah dan aku pergi dari pelacur itu dengan kekalahan. Ya, kekalahan telak seorang istri tuan tanah yang terhormat. Air mataku mengalir deras, sesaat aku berpikir apakah gunanya aku hidup. Toh aku bukan istri sempurna. Malam itu aku menunggu suamiku pulang, kali ini aku tidak berpura-pura tidur, tak kupejamkan mataku walaupun sejenak. Akhirnya suamiku pulang, kuhirup bau bandannya, bau parfum pelacur itu.
Kau baru dari pelacur itu? Tanyaku dan aku sangat terkejut dengan keberanianku menanyakan hal itu padanya. Iya. Hatiku luluh lantak mendengar jawaban yang jujur itu, aku berharap ia berbohong, sungguh aku ingin kebohongan yang manis walau beracun. Kau mengkhianati aku, mas. Aku mencintai Widuri. Sungguh, aku berharap apa yang diucapkannya barusan adalah kebohongan tapi aku melihat kejujuran di mata itu.
Aku menikahimu untuk melahirkan anak-anakku, tapi kau tak kunjung hamil juga.Aku baru saja berpikir apa kau pantas menjadi ayah dari anakku kelak! Mata itu menatapku terkejut, akhirnya aku bersuara, akhirnya suaraku berguna juga. Lancang! Teriak suamiku sambil menempeleng aku, darah segar keluar dari sudut bibirku.
Aku tidak menangis, tidak, aku bersumpah takkan ada lagi setetes air matapun untuknya. Suamiku beranjak pergi dari kamarku, malam itu ia tidak kembali. Lelaki itu sedang duduk di ruang tamu dan menatapku penuh senyum, menyapaku penuh kerinduan. Andi adalah teman sepermainanku sejak kecil, terakhir aku bertemu dengannya adalah di hari pernikahanku.
Gimana kabarmu Ti? Baik, mas sendiri? kataku balas bertanya Aku jadi buruh di Jakarta, hidup di Jakarta ternyata sulit Ti Namanya juga kota besar mas Aku kembali ke sini justru karena aku dipecat, situasi pabrik kacau, sebagian besar buruh dipecat dengan alasan kesulitan keuangan, kami para buruh menggalang aksi mogok sampai berhari-hari karena nasib kami nggak jelas. Eh, pemilik perusahaan malah minggat entah kemana. Aku tertegun sesaat, jadi buruh ternyatatak lebih baik dari pada jadi petani. Kami, para buruh ditelantarkan begitu aja, pemerintah juga tidak melakukan tindakan apapun terhadap nasibkami.
Sudahlah mas, terima aja, mungkin emang nasibmu lagi apes. Nggak usah macem-macem mas entar nasib kamu kayak Marsinah gimana? Kataku ngeri dengan kisah Marsinah yang mati karena dia terlalu vokal.Pokoknya aku nggak mau tahu Ti, kita emang miskin, tapi jangan diem aja kalo diperlakukan sewenang-wenang. Aku diam aja, Andi emang sulit diajak ngomong kalo udah pakai kata pokoknya, sulit diganggu gugat.
Aku tak mau ambil pusing dengan masalahnya, yang jelas aku sudah memberi nasihat padanya.Andi berniat tinggal di desa selama beberapa bulan, kami memang cukup dekat, bahkan ia pernah mau melamarku, namun ia tidak punyakeberanian yang cukup untuk itu. Apalah artinya seorang pemuda miskin bila dibandingkan dengan mas Joko yang seorang tuan tanah. Aku tercenung sesaat ketika kutemukan selembar surat hasil pemeriksaan dari Dokter. Kupikir suamiku sakit tapi ternyata akusalah, suamiku sama sekali tidak sakit.
Surat itu menyatakan bahwa suamiku mandul! Hatiku bahagia sekaligus marah, suamiku yang mandul bukan aku! Aku ingin berteriak pada semua orang bahwa aku tidak mandul bahwa suamikulah yang mandul. Aku ingin mengatakan pada ibu mertuaku yang nyinyir itu bahwa aku tidak mandul, bahwa anaknyalah yang mandul. Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak mandul. Aku tertawa, namun sesungguhnya aku menangis, yah aku menangis.
Suamiku menatapku heran, ia terpana dengan surat pemeriksaanku dari dokter yang menyatakan aku telah hamil dua bulan, wajahnya pucat pasi namun aku merasakan kemenangan dalam hatiku. Aku telah membuktikan bahwa aku tidak mandul kataku. Dan kau tak sanggup membuktikan bahwa kau cukup subur untuk membuatku hamil. Aku melihat dengan jelas wajah suamiku memerah, entah karena malu atau marah. Mungkin keduanya. Dengan siapa kau mengandung, anak siapa bayi yang kau kandung, tanya suamiku dengan suara gemetar.
Apakah itu penting? Bukankah keluargamu menginginkan keturunan? Dengarkan aku, Joko Bekti, kau akan merawat, mengasuh darah daging orang lain dan anak ini akan menjadi satu- satunya pewaris dari kekayaanmu. Inilah hari kemenanganku. Aku tak peduli lagi dengan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Widuri, pelacur iru. Aku tak peduli. Suamiku harus menutupi kenyataan dari semua orang, termasuk ibunya bahwa dia mandul dan ia terpaksa menerima darah daging orang lain sebagai pewarisnya.
Inilah pernikahanku. Sebuah pernikahan yang pernah aku idamkan sebagai pernikahan yang penuh kebahagiaan namun ternyata penuh kemunafikan. Aku telah mengandung dan semua gunjingan pun berakhir. Ibu mertuaku begitu bahagia, tanpa ia tahu bahwa bayi yang kukandung bukanlah darah dagingnya. Semua keluarga begitu bahagia kecuali suamiku. Namaku Lya, sebagai seorang perempuan aku harus menjaga kesucianku, sebagai seorang istri aku harus mengabdi, menjaga kesetiaanku pada suamiku dan sebagai seorang ibu aku harus mengasuh anakku siang dan malam.
Yah, itulah aku dan untuk semua itu hanya ada satu alasan, karena aku adalah seorang perempuan. Namaku Lya, dan saat ini aku berada di stasiun Lempuyangan, begitu banyak orang lalu lalang, melepas kepergian salah satu keluarga mereka, mungkin suami mereka. Dan aku berdiri di sini melepas kepergian kekasihku, Andi. –  Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbaru

Nonton Film Bokep Klik Disini
LIHAT JUGA  Cerita Sex Sange Mekiku Di Pake Anakku

Add a Comment

Your email address will not be published.