Meja13 adalah situs judi online game capsa susun judi bola Menangqq Agen bandar judi Adu Q

Cerita sex BERCINTA DENGAN GURU BAHASA INGGRIS

Cerita sex bercinta dengan guru inggris – Searah dengan saat, saat ini saya dapat kuliah di kampus hasratku. Namaku Jack, saat ini saya tinggal di Yogyakarta dengan sarana yang benar-benar sangat baik. Kupikir saya cukup untung dapat bekerja sembari kuliah hingga saya miliki pendapatan tinggi.

Berasal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Sesudah itu saya berjumpa dengan guru bhs inggrisku, kami bercakap dengan akrabnya. Nyatanya Ibu Shinta masih tetap fresh bugar serta sangat menggairahkan. Penampilannya sangat menarik, menggunakan rok mini yang ketat, kaos top tank hingga lekuk badannya terlihat saat terang. Terang saja dia masih tetap muda sebab pada saat saya SMA dahulu dia yaitu guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu hanya terbagi dalam dua kelas, umumnya siswanya yaitu wanita. Cukup lama saya bercakap dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar saat jalan secara cepat hingga beberapa undangan mesti pulang. Lantas kami juga jalan munuju ke pintu gerbang sembari menyusuri area kelas tempatku belajar saat SMA dahulu.

Mendadak Ibu Shinta teringat kalau tasnya ketinggalan didalam kelas sehinga kami sangat terpaksa kembali pada kelas. Saat itu kurang lebih nyaris jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di dalam lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta juga ambil tasnya lalu saya teringat bakal saat lampau bagaimana rasa-rasanya di kelas dengan rekan-rekan. Lamunanku buyar saat Ibu Shinta menyebutku.

“Kenapa Jack”
“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebenarnya situasi hening serta sangat merinding itu buat keinginanku naik-turun terlebih ada Ibu Shinta di sampingku, buat jantungku selamanya berdebar-debar).
“Ayo Jack kita pulang, kelak Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Jack”.

Tanpa ada berniat saya mengungkapkan isi hatiku pada Ibu Shinta kalau saya sukai padanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Nyatanya situasi berkata beda, Ibu Shinta terdiam saja serta segera keluar dari area kelas. Aku cemas serta berupaya mohon maaf. Ibu Shinta nyatanya telah cerai dengan suaminya yang bule itu, tuturnya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sesaat dimuka kantornya lantas Ibu Shinta keluarkan kunci serta masuk ke kantornya, kupikir utk apa masuk kedalam kantornya malam-malam begini. Aku makin penasaran lantas masuk serta punya maksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menampik. Aku terasa tidak enak lantas menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, secara cepat Ibu Shinta akan menampik namun ada peristiwa yang tidak terduga, Ibu Shinta menciumku serta saya juga membalasnya.

Ohh.., alangkah sukanya saya ini, lantas secara cepat saya menciumnya dengan semua kegairahanku yang terpendam. Nyatanya Ibu Shinta tidak ingin kalah, ia menciumku dengan keinginan yang benar-benar besar menginginkan kehangatan dari seseorang pria. Dengan berniat saya menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah hingga ciuman kami jadi tambah panas lalu berlangsung pergumulan yang benar-benar seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku hingga saya benar-benar terangsang. Lantas saya memohon Ibu Shinta buka pakaiannya, satu persatu kancing pakaiannya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh keinginan. Nyatanya sangkaanku salah, dadanya yang kusangka kecil nyatanya sangat besar serta indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang tipenya sangat seksi.

Karna tidak sabar jadi kucium lehernya serta saat ini Ibu Shinta 1/2 telanjang, saya tidak ingin segera menelanjanginya, hingga perlahan kunikmati keindahan badannya. Aku juga buka baju hingga tubuhku yang tegap serta atletis menghidupkan gairah Ibu Shinta, “Jack kukira Ibu ingin bercinta denganmu saat ini.., Jack, tutup pintunya dahulu dong”, bisiknya dengan nada agak bergetar, kemungkinan menahan birahinya yang mulai naik.

Tanpa ada diperintah 2 x, secepat kilat saya selekasnya tutup pintu depan. Pasti supaya situasi aman serta teratasi. Sesudah itu saya kembali pada Ibu Shinta. Saat ini saya jongkok di depannya. Mengungkap rok mininya serta merenggangkan ke-2 kakinya. Wuih, begitu mulus ke-2 pahanya. Pangkalnya terlihat menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang sangat minim. Sembari mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya serta klitorisnya yang besar. Lidahku semakin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sembari mendesah halus. Pada akhirnya jilatanku hingga di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sembari memegangi kapalaku erat-erat.
“Ooo… oh.. oh.. ”, desis Ibu Shinta keenakan saat lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Terlihat dia keenakan biarpun masih tetap dibatasi celana dalam.

Serangan juga kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Saat ini fitur rahasia kepunyaannya ada dimuka mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai sama sangkaanku. Di seputarnya ditumbuhi rambut yg tidak saat lebat. Lidahku lalu bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk kedalam dengan beberapa gerakan melingkar yang buat Ibu Shinta semakin keenakan, hingga mesti mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau pandai sekali. Belajar dari tempat mana hh…”

Tanpa ada sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lantas tangannya menyentuh celanaku yang menonjol karena batang kemaluanku yang ereksi maksimum, meremas-remasnya sebagian selagi. Begitu lembut ciumannya, biarpun masih tetap polos. Aku selekasnya menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit hingga dia seperti akan tersendak. Semula Ibu Shinta seperti bakal memberontak serta melepas diri, tapi tidak kubiarkan. Mulutku seperti menempel di mulutnya. “Uh anda pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu? ”, tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara serta mulai liar. Aku tidak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan ke-2 payudaranya yang terlihat menggairahkan itu. Agar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Saat ini dia telanjang dada. Tidak bahagia, selekasnya kupelorotkan rok mininya. Nah saat ini dia telanjang bulat. Begitu bagus badannya. Padat, kencang serta putih mulus.

“Nggak adil. Kamu harus juga telanjang.. ” Ibu Shinta juga menanggalkan kaos, celanaku, serta paling akhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh selekasnya diremas-remasnya. Tanpa ada dikomando kami rebah diatas ranjang, berguling-guling, sama-sama menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kesenangan kepunyaannya. Tanpa ada ampun sekali lagi mulut serta lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai keluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami nikmati permainan itu. Selanjutnya saya merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

“Gantian dong.. ” Tanpa ada menanti jawabannya selekasnya kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesusahan, namun lama-lama dia dapat menempatkan diri hingga tidak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. “Justru di situ enaknya.., Sampai kini sama suami main seksnya bagaimana? ”, tanyaku sembari menciumi payudaranya. Ibu Shinta tidak menjawab. Dia jadi mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku juga dengan berubahan memainkan ke-2 payudaranya yang kenyal serta selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, wanita itu telah kepengin disetubuhi. Tetapi saya berniat membiarkan dia jadi penasaran sendiri.

LIHAT JUGA  Cerita Sex Diajari Tante Binal

Tetapi lama-lama saya tidak tahan juga, batang kemaluanku juga telah mau selekasnya menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan saya mengarahkan barangku yang kaku serta keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan badan Ibu Shinta agak gemetar. “Ohh…”, desahnya saat sedikit untuk sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Sesudah semua barangku masuk, saya selekasnya bergoyang naik turun diatas badannya. Aku semakin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan dan ke-2 payudaranya yang turut bergoyang-goyang.

Tiga menit sesudah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan ke-2 kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Nampaknya dia bakal orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan badan menggelinjang menahan kesenangan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia nikmati orgasmenya sebagian selagi. Kuciumi pipi, dahi, serta semua berwajah yang berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging diatas meja.., saat ini kita main dong diatas meja ok! ” Aku mengatur tubuhnya serta Ibu Shinta menurut. Dia saat ini bertumpu pada siku serta kakinya. “Gaya apa sekali lagi ini? ”, tanyanya.

Sesudah siap saya juga mulai menggenjot serta menggoyang badannya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit serta mendesah rasakan kesenangan yang tidak ada taranya, yang kemungkinan sampai kini belum juga sempat dia peroleh dari suaminya. Sesudah dia orgasme hingga 2 x, kami istirahat.
“Capek? ”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Hingga ingin remuk tulang-tulangku”.
“Tapi kan nikmat Bu.. ”, jawabku sembari kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
“Ya deh bila penat. Tapi tolong lagi, saya pengin masuk supaya spermaku keluar. Nih telah tidak tahan sekali lagi batang kemaluanku. Saat ini Ibu Shinta yang di atas”, kataku sembari mengatur tempatnya.

Aku terletang serta dia mendiami pinggangku. Tangannya kubimbing supaya memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Sesudah masuk badannya kunaik-turunkan selaras genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak ikuti irama goyanganku yang semakin lama semakin cepat. Payudaranya yang turut bergoyang-goyang menaikkan gairah nafsuku. Terlebih disertai dengan lenguhan serta jeritannya selagi mendekati orgasme. Ketika dia menjangkau orgasme saya belum juga apa-apa. Tempatnya selekasnya kuubah ke model konvensional. Ibu Shinta kurebahkan serta saya menembaknya dari atas. Mendekati klimaks saya tingkatkan frekwensi serta kecepatan genjotan batang kemaluanku. “Oh Ibu Shinta.., saya ingin keluar nih ahh.. ” Tidak lama lalu spermaku muncrat didalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta lalu menyusul menjangkau klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya saat hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam tempat santai mirip itu.

Kami berpelukan, berciuman, serta sama-sama meremas sekali lagi. Seperti tidak puas-puas rasakan kesenangan beruntun yang barusan kami rasakan. Sesudah itu kami bangun pada pagi hari, kami pergi mencari sarapan serta terlibat percakapan kembali. Ibu Shinta mesti pergi mengajar hari itu serta sorenya baru dapat kujemput.

Sore sudah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall serta kami juga beranjak pulang menuju tempat parkir. Ditempat parkir tersebut kami beraksi kembali, saya mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sembari pejamkan mata, serta tanganku juga mulai meremas ke-2 buah dadanya. Nafas Ibu Shinta semakin terengah, serta tanganku juga masuk diantara ke-2 pahanya. Celana dalamnya telah basah, serta jariku mengelus belahan yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh.. ”, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah tiba ke ubun-ubun serta saya juga buka dengan paksa baju serta rok mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan tempat yang menantang di jok belakang dengan menggunakan BH merah serta CD merah. Aku selekasnya mencium puting susunya yang besar serta masih tetap terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berubah-ganti kiri serta kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus sisi belakang kepalaku serta erangannya yang tersendat membuatku semakin tidak sabar. Aku menarik terlepas celana dalamnya, serta nampaklah bukit kemaluannya. Akupun selekasnya membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh.. ”. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku serta pinggulnya bergetar saat bibir kemaluannya kucumbui. Kadang-kadang lidahku beralih ke perutnya serta menjilatinya dengan pelan.

“Ooohh.., aduuuhh.. ”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya saat lidahku menyelusup diantara belahan kemaluannya yang masih tetap saat rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah serta bibir kemaluannya mulai buka. Kadang-kadang lidahku membelai klitorisnya yang buat badan Ibu Shinta terlonjak serta nafas Ibu Shinta seolah tersendak. Tanganku naik ke dadanya serta meremas ke-2 bukit dadanya. Putingnya jadi membesar serta mengeras. Ketika saya berhenti menjilat serta mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa saya buka semuanya busanaku, serta kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm.. ”. Ketika Ibu Shinta buka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, saat ini iapun mulai menyedot. Tanganku berubahan meremas dadanya serta membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu Shinta selalu menghisap batang kemaluanku sembari tangannya menyeka liang kenikmatannya yang sudah banjir karna terangsang melihat batang kemaluanku yang saat besar serta perkasa baginya. Hampir 20 menit dia mengisap batang kemaluanku serta tidak lama merasa sekali suatu hal di dalamnya mau meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku. Dia menyadari bila saya ingin keluar, jadi dia menguatkan hisapannya serta sembari menghimpit liang kenikmatannya, saya saksikan dia mengejang serta matanya terpejam, kemarin.., “Creet.., suuurr.., ssuuur.. ”

“Oughh.., Jack.., nikmat.. ”, erangnya tertahan karna mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Serta karna hisapannya sangat kuat pada akhirnya saya juga tidak kuat menahan ledakan serta sembari kutahan kepalanya, kusemburkan maniku kedalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot.. ”, banyak maniku yang tumpah didalam mulutnya.

“Aaahkk.., ooough”, ujarku senang. Saya masih tetap belum juga terasa lemas serta masih tetap dapat sekali lagi, akupun naik ke atas badan Ibu Shinta serta bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku berada pada mulut Ibu Shinta serta aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar sementara lidah kami sama sama membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, serta sebentar lalu kurasakan tangan Ibu Shinta menghimpit pantatku dari belakang. “Ohm, masuk.., augh.., masukin”

Perlahan-lahan kemaluanku mulai menyodok masuk ke liang kemaluannya serta Ibu Shinta makin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku merasa tertahan oleh suatu hal yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Saya menghimpit lebih dalam sekali lagi serta mulutnya mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., selalu.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack”

LIHAT JUGA  Cerita Sex Pengantin Yang Masih Lugu

Saya merangkulkan ke-2 lenganku ke punggung Ibu Shinta, lantas membalikkan ke-2 badan kami hingga Ibu Shinta saat ini duduk diatas pinggulku. Terlihat kemaluanku menancap sampai pangkal di kemaluannya. Tanpa ada butuh diajari, Ibu Shinta selekasnya menggerakkan pinggulnya, sesaat jari-jariku bertukaran meremas serta menggosok-gosok payudaranya, klitoris serta pinggulnya, serta kamipun berlomba menjangkau puncak.

Lewat beberapa hari, pergerakan pinggul Ibu Shinta semakin menggila serta iapun membungkukkan badannya dengan bibir kami sama sama melumat. Tangannya menjambak rambutku, serta pada akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Merasa cairan hangat membalur semua batang kemaluanku. Setelah badan Ibu Shinta melemas, saya mendorongnya sampai kecakapanng, serta sembari menindihnya, saya menguber puncak orgasmeku sendiri. Saat saya menjangkau klimaks, Ibu Shinta pasti rasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, serta iapun mengeluh lemas serta rasakan orgasmenya yang ke-2. Demikian lama kami diam terengah-engah, serta badan kami yang basah kuyup dengan keringat masih tetap sama sama bergerak bergesekan, rasakan sisa-sisa kesenangan orgasme..